Good or Bad ?

Menentukan kriteria iklan yang bagus dan iklan yang jelek

Perdebatan sebuah penilaian iklan pada masing-masing individu mempunyai perbedaan persepsi dari sudut pandang masing-masing orang. Bisa jadi saya mengatakan iklan Axe itu bagus dan anda mengatakan iklan tersebut jelek, karena kita memiliki persepsi berbeda.

Untuk menentukan kriteria penilaian pada sebuah iklan, DJOKOLELONO (Creative Director Grey Advertising) merumuskan prinsip-prinsip penilaian iklan yang BAGUS. Menurut Djokolelono, iklan yang bagus harus memiliki unsur SUPER ‘A’.

SIMPLE

Sebuah iklan yang bagus harus sederhana.
Sebuah iklan yang bagus harus dapat dimengerti dengan hanya sekali lihat.
Pengertian di atas lebih cocok untuk peluncuran Brand atau Merek produk baru.
Pengertian simple dapat diartikan tidak banyak elemen dan komunikatif. Komunikatif berarti mempunyai kekuatan untuk mengajak konsumennya berkomunikasi.

UNEXPECTED

Sebuah iklan yang bagus harus tidak terduga.
Tidak terduga = unik, artinya dapat menempatkan diri dalam benak pikiran masyarakat.
Iklan yang Unexpected akan jauh lebih diingat oleh konsumennya. Lebih dihargai dan akhirnya akan menjadi Top of Mind, paling tidak dalam segementnya.

PERSUASIVE

Sebuah iklan yang bagus harus persuasive.
Sebuah iklan yang bagus harus meyakinkan.
Meyakinkan = daya bujuk mempunyai pengaruh untuk membujuk orang untuk melakukan sesuai keinginan dalam iklan tersebut. Iklan yang persuasive dapat mendekatkan diri dengan Brand kita dan tertarik untuk mencobanya. Iklan yang persuasive tidak hanya mampu membawa audience menyukai iklannya tetapi juga sangat mengingat brand kita.

ENTERTAINING

Sebuah iklan yang bagus harus entertaining.
Sebuah iklan yang bagus harus menghibur.
Menghibur tidak harus selalu lucu, tetapi mempunyai arti yang lebih luas yaitu memainkan emosi audience. Ketika emosi audience sudah terbawa maka audience akan dengan mudah bersimpati terhadap Brand yang diiklankan.

RELEVANT

Sebuah iklan yang bagus harus relevant.
Sebuah iklan yang bagus harus saling berhubungan.
Iklan yang disajikan dengan sangat hebat dan terkadang melantur dari hal umum tetap harus saling berhubungan dengan brand produk tersebut pada akhirnya. Apapun cara penyampaian iklan kita terhadap audience tetap perlu diingat, segala cara tersebut hanya untuk satu tujuan yaitu Brand produk tersebut.

ACCEPTABLE

Sebuah iklan yang bagus harus acceptable.
Sebuah iklan harus bisa diterima secara pribadi.
Banyak iklan yang mengundang reaksi masyarakat karena dianggap melampaui nilai-nilai ketimuran. Karena keanekaragaman budaya maka iklan di Indonesia, sekreatif-kreatifnya masih dibatasi oleh norma-norma masyarakat.

IKLAN BAIK: AIDCA
Terdapat beberapa pendapat mengenai iklan yang bagus. Menurut Kasali (1995: 83:86) iklan yang bagus paling tidak memenuhi kriteria rumus yang disebut AIDCA. Rumus itu merupakan singkatan dari dari elemen-elemen:

1. Attention (perhatian)

2. Interest (minat)

3. Desire (kebutuhan)

4. Conviction (keinginan)

5. Action (tindakan)

Dalam elemen Attention, iklan harus mampu menarik perhatian khalayak sasaran. Untuk itu, iklan membutuhkan bantuan ukuran, penggunaan warna, tata letak, atau suara-suara khusus.

Untuk elemen Interest, iklan berurusan dengan bagaimana konsumen berminat dan memiliki keinginan lebih jauh. Dalam hal ini konsumen harus dirangsang agar mau membaca, mendengar, atau menonton pesan-pesan yang disampaikan. Selain itu, iklan juga harus memiliki komponen Desire, yaitu mampu menggerakkan keinginan orang untuk memiliki atau menikmati produk tersebut.

Setelah itu, iklan juga harus mempunyai elemen Conviction, yang artinya iklan harus mampu menciptakan kebutuhan calon pembeli. Konsumen mulai goyah dan emosinya mulai tersentuh untuk membeli produk tersebut. Akhirnya, elemen Action berusaha membujuk calom pembeli agar sesegera mungkin melakukan suatu tindakan pembelian. Dalam hal ini dapat digunakan kata beli, ambil, hubungi, rasakan, bunakan, dan lain-lain.

Namun demikian, dalam era yang serba over comunication iklan ini, penulis iklan harus cukup hati-hati. Banyak kalangan yang merasa alergi melihat iklan.

Di sisi lain, kita juga perlu memperhatikan rencana strategi pemasaran secara umum. Tentu saja target iklan untuk produk baru, akan sangat berbeda dengan iklan untuk produk yang sudah lama melekat dalam benak konsumen.

Begitu juga golongan target audience atau calon konsumen dan ciri fungsi produk dari iklan — mempengaruhi pemakaian kata-kata yang akan dipakai. Bahasa yang dipakai untuk iklan yang target audience-nya anak-anak tentu berbeda dengan iklan yang target audience-nya orang dewasa laki-laki .Bahasa yang dipakai untuk iklan rokok tentu berbeda dengan iklan yang dipakai untuk iklan obat masuk angin. Untuk iklan obat masuk angin copywriter dapat menggunakan kata “segeralah minum obat X”, namun untuk iklan rokok kata-kata itu tidak dapat digunakan. Di sini yang membedakan adalah ciri fungsi iklan. Obat masuk angin dipakai langsung untuk mengobati penyakit yang sering diidap oleh masyarakat. Sementara rokok digunakan konsumen untuk kenikmatan dan gaya hidup.

Oleh karena itu, rumus AIDCA sebagai syarat untuk iklan yang baik, tidak begitu relevan untuk saat ini. Hakim (2006: 49-63), menawarkan rumus iklan baik yang disebut dengan SUPER “A”, seperti yang sudah jelaskan sebelumnya 🙂

28 Oktober 2011
Written by : Epricilia – 915100205

Advertisements

One thought on “Good or Bad ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s