Yang Nyaris Terlupakan

Kicau Kacau -Indra Herlambang-

Setiap orang memang punya pandangan sendiri soal yang namanya pertemanan. Dan soal urusan ini, saya memang harus mengakui, bahwa dalam dunia perkawanan, saya mungkin bukan sahabat yang terbaik. Tapi rasanya sebagai seorang teman saya cukup bisa diandalkan. Walaupun sering sekali melupakan hal penting macam tanggal ulang tahun atau detail lain yang sering dianggap sebagai resep utama dalam menjaga hubungan persahabatan, saya cukup fanatik dalam urusan kesetiakawanan.

Saya percaya bahwa dalam satu titik kita sudah membahasakan diri sebagai teman untuk seseorang, seumur hidup kita harus siap untuk bertanggung jawab atas predikat yang luhur itu. Siap untuk
membantu setiap teman dalam kesulitan. Siap datang kapanpun kehadiran kita mereka butuhkan.Namun jika melihat jumlah teman yang mengerut seiring jumlah umur yang membengkak, apakah memang
benar pendapat orang yang mengatakan bahwa dalam hal pertemanan, manusia memang harus
menyerah pada seleksi alam? Terlepas dari sifat seseorang, introver atau ekstrover, outgoing atau super pemalu, sepertinya semua manusia pasti ingin memiliki banyak teman. Biasanya dua orang bisa menjadi kawan saat disatukan oleh:banyak persamaan. Di awal sekolah dulu, teman adalah mereka yang ada di satu kelas, satu sekolah di:lingkungan rumah, atau dalam lingkup keluarga besar. Selalu ada kesamaan tempat atau kegiatan yang menjadi faktor pemicu persahabatan. Setelah beranjak dewasa dan semua memilih jalan hidup yang berbeda, kita akan menemukan kalau secara perlahan
teman yang kita punya seolah hilang dari keseharian. Satu demi satu. Mungkin karena pertemanan perlu dipupuk dengan intensitas perjumpaan dan waktu. Jarak dan aktifitas yang berbeda mau tidak mau akan ikut membantu renggangnya hubungan yang kita
punya dulu. Apakah karena itu juga maka sekarang ada diantara kita yang sepertinya tidak terlalu banyak punya teman dekat? Konsep pertemanan seperti ini sebenarnya agak menakutkan. Karena kita seolah dibenarkan untuk menyerah dan tidak lagi berjuang untuk sebuah
hubungan persahabatan ketika semesta memilihkan jalan yang berbeda untuk langkah hidup kita.Tapi bagaimana lagi? Berapa sering kita bertemu dengan sahabat lama yang dulu sempat terasa begitu dekat namun kini tampak seperti orang asing karena sudah tidak nyambung? Pasti harus diakui bahwa terkadang dibutuhkan banyak kesamaan untuk membuat dua orang bertahan dalam satu hubungan persahabatan.

Alam seperti menyeleksi teman yang kita punya. Tempat dan kegiatan serta ruang lingkup kehidupan menjadi kunci penentu yang akhirnya memutuskan mana teman yang tetap tinggal, mana teman yang akan menghilang. Ini mungkin hanya pikiran pesimis saya saja. Bukankah sebenarnya teman akan selalu ada? Mungkin dalam bentuk orang yang berbeda, tapi esensinya sama. Hidup akan selalu mempertemukan kita dengan teman yang baru. Dan teknologi internet dan jejaring sosial yang begitu canggih saat ini bisa membantu kita untuk kembali menemukan para sahabat yang dulu pernah dekat. Namun tetap saja, saya tidak bisa berhenti berpikir bahwa sebenarnya pada akhirnya kita sendiri yang punya kekuatan untuk mempertahankan mereka yang harus tetap ada dalam hidup kita.

Sekarang pertanyaannya seberapa keras kita melakukan usaha itu? Tiga puluh tahun lagi akankah anak saya bisa menemukan saya berbincang gembira dengan seorang sahabat lama? Saya tahu sekali apa yang seharusnya saya lakukan sekarang. Mengambil telefon dan mencoba untuk kembali berbincang dengan mereka yang nyaris terlupakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s