Managing an Issue of Exxon Valdez

Manajemen Isu Krisis dan Konflik

 

 

Sejarah Singkat Exxon Valdez

 

Dong Fang Ocean, sebelumnya bernama Exxon Valdez, Exxon Mediterranean, SeaRiver Mediterranean, S/R Mediterranean, Mediterranean adalah sebuah kapal tanker milik ExxonMobil yang terkenal setelah kandas dan menumpahkan minyak mentah sebesar 40.900 – 120,000 m3 (10.800.000 – 32,000,000 US gallon), atau 257.000 – 750.000 barrel [1][2] di daerah perairan Prince William, Bligh Reef, Alaska pada 24 Maret 1989, saat itu kapal ini dikemudikan oleh Kapten Joseph Hazelwood menuju Long Beach, California . Peristiwa ini merupakan tragedi buruk pencemaran laut oleh minyak kedua dalam sejarah Amerika Serikat [3] dan peringkat ke 54 di dunia.

 

Tragedi Exxon Valdez: Ganti Rugi Kerusakan Lingkungan Dalam Kasus Exxon-Valdez Dibatasi

 

Kasus tumpahnya minyak dari Supertanker milik Exxon di lepas pantai Alaska pada 23 Maret 1989 telah menjadi perhatian pemerhati lingkungan. Sampai saat ini, tumpahnya minyak ke laut yang dilakukan oleh Kapal Exxon itu adalah yang terbesar: lebih dari 12 juta gallon minyak mentah. Berbagai tuntutan telah dialamatkan ke Exxon, terutama oleh para pihak yang menggantungkan hidupnya dari laut Prince William Sound, Alaska.

Exxon sendiri telah menghabiskan dana lebih dari $ 2,1 miliar untuk membersihkan lingkungan laut dari tumpahan minyak. Ia juga harus berhadapan dengan pemerintah Amerika dan Alaska yang mengejar Exxon terlibat dalam perbuatan pidana yang bertentangan dengan Clean Water Act, the Refuse Act, dan Migratory Bird Treaty Act.

Exxon mengaku bersalah dan membayar denda $ 150juta (kemudian direvisi menjadi $ 25juta dan restitusi $100juta). Tak berhenti di sana, Pemerintah Amerika dan Alaska kemudian mengajukan tuntutan perdata atas dasar terjadinya kerusakan lingkungan, yang hasilnya membuat Exxon harus merogoh kocek sebesar $ 900juta sebagai biaya perbaikan lingkungan. Selain itu, ia juga harus membayar restitusi kepada nelayan dan pihak lainnya sebesar $ 303juta.

Satu kasus lain dikonsolidasikan (yang kebanyakan penuntutnya adalah para pihak yang dirugikan secara langsung oleh tumpahan minyak itu: nelayan, penduduk asli Alaska dan pemilik lahan; yang jumlahnya mencapai 32ribu orang) dan diajukan untuk meminta kompensasi kepada Exxon.

Di pengadilan pertama di Alaska, Exxon terbukti bersalah melakukan kelalaian yang menyebabkan terjadinya kerugian di pihak lain. Kelalaian ini sebenarnya dilakukan oleh Kapten Kapal Supertanker itu, Joseph Hazelwood, yang pada saat kapal melakukan manuver malah meninggalkan kabin dan terbukti sedang mabuk. Namun, karena Joseph Hazelwood sedang bekerja berdasarkan kontrak yang disetujui dengan Exxon, maka Exxon juga kena getahnya sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan.

Exxon karenanya diharuskan membayar lebih dari $287juta sebagai kompensasi (ganti rugi) bagi para nelayan, $20juta bagi penduduk Alaska dan lebih dari $200juta bagi pemilik lahan; atau keseluruhannya mencapai $507.2juta. Selain itu, karena terbukti lalai, Exxon juga terkena hukuman bayar ganti rugi kerusakan (punitive damage) sebesar $ 5 miliar sedangkan Joseph Hazelwood dikenakan $ 5000.

Keputusan bahwa Exxon terbukti melakukan kelalaian diperkuat oleh Pengadilan Banding, namun besarnya ganti rugi kerusakan itu diturunkan menjadi setengahnya ($ 2,5 miliar). Exxon kemudian mengambil langkah “kasasi” ke MA-USA untuk mempertanyakan apakah ganti rugi itu melewati batas yang seharusnya diberikan dalam hukum kelautan, apakah biaya ganti rugi dibatasi oleh hukum federal (Clean Water Act) dan apakah pemilik kapal bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi di luar persetujuannya (yang dilakukan oleh bawahannya).

Dalam hal besarnya ganti rugi itu, Exxon merasa bahwa besarnya ganti rugi yang harus dibayarkannya telah melewati tujuan yang diinginkan dengan adanya ganti rugi kerusakan itu, yakni menghalangi terjadinya perbuatan tidak baik atau akibat meningkatnya ancaman kerusakan.

Keputusan para hakim MA pada 25 Juni 2008 tentang apakah pemilik kapal bertanggung jawab atas perbuatan bawahannya ternyata sama kuat sehingga MA-USA tidak mengambil keputusan dalam masalah ini, sehingga keputusan di pengadilan di bawahnya tetap sebagaimana adanya. Dalam keputusan lain, MA -USA menegaskan tidak adanya pembatasan berapa ganti rugi kerusakan yang harus dibayarkan. Namun, dalam kasus ini, yang berhubungan dengan hukum kelautan, MA-USA menyatakan bahwa pembatasan harus dilakukan dengan perbandingan 1:1, dimana biaya ganti rugi harus seimbang dengan biaya kompensasi yang telah dibayarkan. Dengan kata lain, Exxon hanya wajib membayar ganti rugi kerugian sebesar $507.2juta; yang kemudian ditetapkan sebagai putusan hakim pengadilan banding pada 15 Juni 2009. Pada putusan banding itu pula ditetapkan bahwa bunga atas punitive damage itu ditetapkan sejak tahun 1996.

Setelah perdebatan tentang apakah biaya punitive damage yang diberikan kepada Exxon terlalu besar dilihat dari usaha yang sudah dilakukan oleh Exxon untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan serta biaya2 lainnya, putusan MA-AS itu juga menimbulkan polemik. Walaupun ada pihak yang berpendapat keputusan itu hanya berlaku bagi hukum kelautan saja , tetapi tetap saja keputusan itu (di negara yang menganut judge-made law) dapat memberikan arahan pada hakim ketika menghadapi kasus serupa, berurusan dengan tuntutan punitive damage yang sangat besar. Ketika pemberian kompensasi sudah bisa menafsirkan adanya “ganti rugi” dari penuntut, maka punitive damage, yang berfungsi untuk mencegah kejadian serupa terjadi kembali, memang tidak seharusnya melewati biaya kompensasi itu.

Tapi, apakah harga-harga itu memang dapat merefleksikan hancurnya ekosistem Prince William Sound? Tepatnya, apakah biaya yang dikeluarkan oleh Exxon layak untuk menggantikan kerusakan lingkungan di wilayah perairan tersebut yang kemudian menghancurkan pula keadaan social masyarakat sekitarnya, yang kesemuanya itu celakanya diawali oleh kecerobohan Exxon sendiri? Apakah $507.2juta sebagai punitive damage pada Exxon benar-benar akan mencegah Exxon untuk tidak mengulang kejadian serupa di masa depan?

Kapal Valdez itu sendiri tidak mengalami kerusakan berarti, ia bisa diperbaiki dan diberi nama berkali-kali untuk akhirnya berhenti di nama “SeaRiver Mediteranian”. Kemudian selama kurang lebih 12 tahun, ia bekerja mengantar minyak Exxon untuk rute Teluk Persia – Jepang, Singapura, Australia. Pada tahun 2002, Exxon memesiunkannya, namun banyak pihak yang percaya bahwa kapal Valdez itu tetap beroperasi dengan bendera negara asing.

 

Arogansi Exxon yang Menghancurkan Dirinya

Seiring dengan perjalanan waktu banyak pengalaman dan cerita yang kita temui. Pengalaman yang baik akan menjadi sumber motivasi sebagai pendorong menjadi lebih baik. Pengalaman yang buruk menjadi sumber pembelajaran dan perbaikan dari situasi saat ini.

Banyak perusahaan dan organisasi pernah mengalami masa krisis selama perjalanannya. Namun hanya sedikit sekali perusahaan yang tidak memiliki kompetensi dan tidak bertanggung jawab dapat melalui kejadian kritis dengan baik, salah satunya adalah Exxon. Pada tahun 1989, Exxon Valdez tanker minyak karam dan mulai menyebarkan minyaknya pada pantai di Alaska. Dalam waktu singkat, sebanyak 1.260.000 barel minyak membanjiri lautan dan menjadi peristiwa kebocoran minyak mentah terbesar di sepanjang sejarah Amerika.

Setelah ditelusuri, ternyata kapten dan wakil kapten kapal tidak dalam kondisi yang layak untuk menahkodai kapan tanker. Pertama, wakil kapten tidak memiliki kualifikasi yang layak untuk menahkodai. Kedua, beberapa awak kapaltermasuk kapten sedang dalam keadaan mabuk saat mengarahkan kapal.

Namun saat itu, Exxon tidak mengambil tindakan cepat untuk menanggulangi bencana ini. Sampai dengan lebih dari 24 jam pasca kejadian, Exxon tidak mengambil tindakan nyata untuk mencegah agar kontaminasi tidak menyebar ke wilayah lainnya. Dari segi publikasi, perusahaan juga tidak bersikap terbuka pada kalangan media. Saat beberapa media berusaha meminta keterangan dari perusahaan, Exxon selalu menghindar sementara itu minyak semakin menyebar tidak terkendali. Hal ini diperparah dengan buruknya cuaca saat itu ketika terjadi hujan yang besardisertai dengan yang kencang.

Seminggu setelah berlalu, bencana ini menarik Presiden Amerika saat itu. Presiden menyatakan bahwa bencana ini tergolong bencana nasional. Namun perusahaan tetap tidak melakukan usaha yang mencukupi dalam penanganan bencana.

Jumpa pers yang dilakukan Exxon pun justru malah memperburuk image perusahaan di mata public karena dalam siaran pers pihak perusahaan diserang habis oleh kalangan media, komunitas, dan penduduk lokal.

Komunitas lokal mengaku bahwa perusahaan telah memberikan janji akan membersihkan limbah yang mereka bocorkan dan menjaga kualitas hidup masyarakat sekitar. Akhirnya mereka kecewa dan memiliki persepsi buruk pada perusahaan. Usaha media untuk menggali informasi terus berlanjut. Pimpinan Exxon diundang pada satu acara bincang- bincang di televisi. Pada saat acara pimpinan tersebut terlihat gugup dan menolak untuk menjelaskan laporan yang diterimanya mengenai isu kebocoran minyak. Sebaliknya ia malah menyalahkan kalangan media yang terlalu melakukan pemberitaan berlebihan pada kejadian ini.

Kesalahan penanganan pada kejadian ini menyebabkan perusahan menderita kerugian dari dua sisi. Pertama adalah biaya yang besar (sebesar 7 miliar dolar) termasuk biaya pembersihan dan juga hancurnya reputasi perusahaan karena kesalahan dalam penanganan bencana. Akibat kejadian ini, Exxon jatuh dari urutan pertama menjadi urutan ketiga pada perusahaan yang beroperasi di industri minyak.

Kejadian ini menjadi simbol arogansi perusahaan dan cerita ini terus diperbincangkan selama setahun penuh. Menurut survey yang dilakukan pada tahun 1990-an, 65 persen responden menyatakan bahwa kebocoran minyak ini adalah elemen penting dalam menaikan kesadaran publik mengenai isu lingkungan.

 

 

Apa yang harus Dilakukan oleh Exxon?

Sebagaimana yang saya pelajari dari pak Donny de Keizer di mata kuliah Manajemen Isu Krisis dan Konflik, seharusnya apabila sebuah perusahaan melakukan kesalahan fatal yang berambas pada isu, krisis, dan bahkan konflik, maka perusahaan Exxon harus melakukan hal berikut:

1. Menganalisa tragedi yang terjadi

Mungkin hal pertama ini telah dilakukan oleh Exxon, mengingat ini bukanlah masalah kecil tetapi merupakan masalah dunia. Menganalisa 5W+1H menjadi sangat penting agar langkah berikut dalam mengatasi isu menjadi lebih terarah.

2.Mengisolasi krisis atau konflik

Exxon bisa saja mengisolasi krisis dengan melakukan perbaikan pada daerah yang tercemar secepatnya. Bukan seperti faktanya, mereka tidak mengambil tindakan cepat untuk menanggulangi bencana tersebut. Karena menjadi sangat penting melakukan hal ini, agar setidaknya kita masih dicap sebagai perusahaan yang bertanggung jawab dan agar isu bencana tersebut tidak terlalu memperberat atau menjatuhkan Exxon.

3. Mengukur tingkat kegawatan krisis

Karena bencana Exxon = bencana dunia = bencana lingkungan, tentu saja tingkat kegawatan krisisnya berapa pada level yang sangat amat tinggi.

4. Membuat Crisis Centre

Hal ini juga penting agar nama baik Exxon walaupun sudah tercemar jangan sampai tercemar lebih jauh. Yang bisa dilakukan Exxon adalah dengan memperbaiki citranya, buatlah outline atau website untuk memperoleh masukan masyarakat mengenai bencana tersebut.

5. Penilaian Strategi Penanganan Krisis

Exxon Valdez dapat melakukan strategi ini dengan membuat video klarifikasi permintaan maaf atas kelalaian nahkoda. Atau yang paling penting adalah, melakukan konferensi pers dan menyambut jurnalis dengan sangat hangat dan bersahabat, mengingat pers adalah elemen penting untuk memperbaiki citra Exxon. Tidak seperti yang dilakukan oleh Exxon pada faktanya yang malah menyalahkan pers.

6. Program Pengendalian Krisis

Program yang sangat pasti, harus, wajib dilakukan oleh Exxon selain memperbaiki citra tersebut. Exxon HARUS memperbaiki dan mengembalikan daerah yang ketumpahan minyak tersebut. Apabila Exxon mampu melakukannya dengan baik, niscaya citra Exxon pasti akan dikenal sebagai perusahaan yang dapat bertanggung jawab, dan bisa dipercaya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama kedua kalinya.

 

Dalam kasus ini setidaknya terdapat dua isu penting yang dapat kita pelajari. Pertama sangat penting bagi perusahaan untuk memenuhi janji yang telah disampaikan. Hal ini sangat penting untuk menjaga hubungan dengan para stakeholder terutama dalam memupuk rasa kepercayaan.

Kedua, bertindak sebagaimana perusahaan yang baik dan berkontribusi pada lingkungannya.

 

Thank you and leave a comment please 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Managing an Issue of Exxon Valdez

  1. ah pas banget, kemaren makul PR EThTHICS bahas exxon valdez. kalo menurut pandangan PR sih, ini salah satu contoh kasus yang penanganan krisis yang tidak baik,terlebih jika dibandingkan dengan penanganan krisis yang dilakukan oleh Johnson&Johnson saat krisis Tylenol. perbedaan yang terlihat sangat jelas yaitu Pihak Johnson & Johnson tidak bersikap defensif seperti Exxon Valdez.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s