Hello Again!

So many things, so little time.
So instead of using my time to blog now, let me first finish off my job, then I’ll get back to you, to update you on what has been happening this past two years ever since I last wrote the last entry in this much forgotten blog.

Despicable Media Social

Kapita Selekta II – 3 September 2013
“DESPICABLE MEDIA SOCIAL”

Speaker: Jerome Eugene Wirawan
(Redaktur Halaman Internasional Media Indonesia)

Di pertemuan kedua mata kuliah Kapita Selekta ini, kami kedatangan seorang pembicara yakni Bapak Jerome yang merupakan seorang Redaktur Desk International Media Indonesia. Meski materi yang diberikan berlatar belakang Jurnalistik, tapi tidak mengurangi kualitas materi untuk diketahui semua mahasiswa.

‘Resurrecting The Champ’, merupakan inti dari perkuliahan hari ini. Film bertema drama-sports ini bercerita tentang karir seorang jurnalis yang meningkat setelah menulis kisah tentang seorang boxer. Setelah itu, sang jurnalis diajak produser untuk menjadi presenter acara boxing. Namun, jurnalis merasakan dilema. Bertahun-tahun ia merintis karir sebagai seorang jurnalis, dan sekarang ia harus menjadi seorang presenter dengan setting-an media sedemikian rupa.

Film ini juga menunjukkan kepada kita, bagaimana luar biasanya sikap skeptis penguasa media maupun masyarakat terhadap jurnalistik. Bahkan, tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa hanya orang naif yang percaya pada jurnalistik.

Salah satu kutipan menarik yang perlu kita renungkan dari film ini, serta untuk perjalanan jurnalistik masa kini, yakni: “There’s no journalism anymore. There’s no news.” Kutipan ini diucapkan oleh seorang produser di film tersebut. Secara tidak langsung, kutipan ini seakan merefleksikan dengan jurnalistik Indonesia saat ini. Apakah setiap media juga menerapkan hal tersebut? Media tidak lagi menomorsatukan Jurnalistik. Mengapa demikian?

1. Pilar utama Jurnalistik adalah FAKTA.
“Fakta itu Suci”. Jargon ini masih diterapkan oleh pemilik Kompas kepada reporter-reporternya sampai saat ini. Seharusnya setiap media juga menerapkan prinsip tersebut, mengingat jurnalistik berdasarkan fakta. Jurnalistik tidak menerima omongan narasumber secara mentah. Reporter yang baik haruslah memaparkan berita sesuai dengan fakta yang ada. Dan hasil dari berita tersebut sudah diverifikasi kebenarannya.

2. Kebenaran
Selain fakta, kita juga harus memikirkan tentang kebenaran. Namun, pada kenyataannya, masyarakat saat ini tidak mau tahu dan tidak peduli tentang kebenaran. Dan yang menjadi pertanyaan, kebenaran? Kebenaran versi siapa yang dimaksud disini? Reporter juga bisa membuat kesalahan fatal apabila terlalu berbelit-belit dalam mendeskripsikan kebenaran. Misalnya, pada saat mendeskripsikan kasus pembunuhan, reporter tidak perlu menulis mengenai proses pembunuhan step by step. Karena selain masyarakat tidak mau tahu, hal itu juga bisa menyebabkan reporter dianggap telah memberikan penjelasan mengenai hal buruk yang tidak pantas ditiru. Setiap kebenaran yang ditulis juga tidak selalu berujung pada fakta yang ada. Oleh karena itu, verifikasi menjadi kunci utama bagi reporter untuk mengeluarkan berita yang faktual.

Fenomena Media Sosial
Munculnya media sosial saat ini memiliki efek negatif dan positif bagi perkembangan jurnalistik. Masyarakat modern ini sudah bisa mengakses berita melalui akun pribadi media sosial, seperti facebook, twitter, pinterest, path, dan lain-lain.

Namun, darimana masyarakat mendapat kepercayaan tentang berita yang mereka baca melalui media sosial? Bagaimana mereka memverifikasi kebenaran berita? Contoh, ada sebuah mention ke akun twitter resmi Bus TransJakarta yang mengatakan bahwa terjadi kecelakaan di jalan berikut. Apakah setiap orang yang membaca lantas langsung percaya bahwa benar adanya kecelakaan? Tidak ada yang bisa memverifikasi.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya, apakah twitter dan media sosial lainnya sudah menghancurkan media konvensional? Zaman sekarang ini, twitter dan blog adalah media yang paling sering diakses. Tak jarang, jurnalis pun lebih suka menggunakan media sosial untuk menyebarluaskan berita.
Positif dari media sosial yang tampak jelas dapat kita lihat dalam peristiwa besar dunia berikut. Banyak orang di dunia dan terutama negara timur seperti Iran, Mesir mengakui kebenaran dimonopoli sepenuhnya oleh penguasa / rezim / militer Mesir. Untuk mengatasi hal ini, masyarakat mengandalkan media sosial untuk menyiarkan kepada dunia tentang kekejaman penguasa ini. Hal ini dianggap efektif untuk mendapatkan kebebasan memberitakan kebenaran. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, penguasa tak hanya tinggal diam. Penguasa sampai saat ini masih berusaha agar bisa menekan kebebasan warga negaranya dengan meminimalisir internet.

Hal tersebut menjadi efek positif media sosial, dimana kebenaran tidak lagi dimonopoli oleh penguasa, pemerintah maupun konglomerat media. Di sisi lain, kelemahan dari media sosial adalah beritanya tidak bisa disortir dan kurang akurat.

Akibat dari media sosial yang berdampak pada media konvensional:
– Pemasukan iklan ke media konvensional di Amerika menurun drastis 47%
– Staff media konvensional menyusut sebesar 25%
– Viewers menurun 14% karena masyarakat merasa tidak perlu mengakses media konvensional. Masyarakat merasa jumlah berita kurang komplit apabila dibandingkan dengan media sosial yang beritanya terus up to date. Media konvensional memiliki berita yang relatif sedikit.

Akhir dari kuliah ini, Bapak Jerome memberikan pertanyaan untuk masing-masing individu: Akankah media konvensional mati dengan kehadiran media sosial?

Media konvensional saat ini memang sedang menghadapi tantangan dari media sosial. Kecepatan informasi dari media sosial biasanya lebih cepat dibandingkan dengan media konvensional, seperti koran, televisi dan radio.

Dengan keinginan masyarakat menginginkan informasi yang semakin beragam, bahkan harus lebih cepat dibanding media sosial, maka pengusaha media harus menyesuaikan bisnis media konvensional dengan media sosial.

Penyesuaian tersebut dilakukan dengan cara membuat media konvensional menjadi lebih interaktif, lebih instan (dengan kecepatan tanpa mengorbankan akurasi), lebih mudah diproses (didistribusikan melalui media sosial), dan lebih bervariasi (diperkaya dengan gambar dan foto).

Bisa saya jawab seharusnya, media konvensional tidak akan mati. Karena selama ini, kekuatan media konvensional adalah kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan oleh jurnalis. Sedangkan, media sosial adalah sebuah jejaring sosial yang sistemnya seperti percakapan biasa. Namun pada akhirnya, dapat saya simpulkan, tidak ada gunanya untuk memperdebatkan apakah bisnis media konvensional akan mati dengan adanya media sosial, karena dua jenis media ini harus saling melengkapi untuk saling memberikan informasi kepada masyarakat.

365 with Lunafly

Band asal Korea Selatan, Lunafly kembali mengadakan Live Showcase di Malaysia. Dengan promotor yang sama seperti showcase pertamanya, Inspire Me, showcase akan diadakan di Taylors University Lakeside Campus tanggal 12 dan 13 Oktober 2013 mendatang. Sebelumnya Lunafly sudah pernah berkunjung ke negara Jiran tersebut pada Maret 2013. Tak sedikit Lukie, sebutan untuk fans Lunafly, yang bertanya mengenai sistem pembelian tiket karena tak sabar ingin bertemu idolanya. Wan Nur Atiqah bahkan menulis komentar di halaman facebook promotor, “If I want to buy both day and night passes…” Atiqah pun menjelaskan bahwa ia tak ragu untuk membeli 3 tiket sekaligus. Ia ingin bertemu idolanya, Sam, leader Lunafly secara total selama dua hari showcase dan malam sebelum showcase hari pertama berlangsung.

Admin Inspire Me juga menuturkan, “Excitement dari para fans memang sangat luar biasa. Hal ini bisa dirasakan dari feedback pada saat announcement event tersebut. Penjualan tiket juga sampai saat ini masih terus berjalan dan masih sedikit kursi yang tersisa.” (epricilia)