Hello Again!

So many things, so little time.
So instead of using my time to blog now, let me first finish off my job, then I’ll get back to you, to update you on what has been happening this past two years ever since I last wrote the last entry in this much forgotten blog.

Emansipasi vs Modernisasi

Image    Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita, lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.” (Kartini – Habis Gelap Terbitlah Terang)

Raden Adjeng Kartini

Raden Adjeng Kartini atau yang biasa kita kenal dengan RA Kartini adalah tokoh pelopor kebangkitan perempuan Indonesia. Sebagai pahlawan emansipasi perempuan, tentu Kartini seringkali menjadi tokoh inspirasi bagi para perempuan pada era ini. Karena prestasi yang diciptakan oleh Kartini bukan hanya mengubah hidupnya, tetapi hidup semua perempuan setelah prestasi tersebut dilahirkan Kartini.

Jepara, 21 April 1879

21 April 1879, di Jepara lahirlah anak perempuan kelima dari sebelas bersaudara. Dinamakan Raden Adjeng Kartini, ia lebih sering dipanggil dengan Raden Ayu Kartini. Kartini adalah seorang dari kalangan kelas bangsawan Jawa, dan merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, yang adalah bupati Jepara pada masa itu. Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah.

Pada tanggal 13 September 1904, RA Kartini melahirkan bayi pertama dan terakhirnya yang diberi nama Singgih RM Soesalit. Tetapi keadaan kesehatan kartini semakin memburuk pada saat itu, hingga akhirnya Kartini menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 17 September 1904.

Emansipasi Kartini untuk Perempuan Indonesia

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Mengapa Kartini? Tahukah Anda? Sejarah kartini yang diajarkan di Sekolah Dasar hanya menggambarkan Kartini secara garis besar; tentang lahir, hidup, dan matinya saja.

Tapi tahukah Anda bahwa ada sejarah yang lebih penting daripada itu? Yah, “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang merupakan kumpulan surat-surat Kartini kepada para sahabatnya juga kerapkali disebutkan. Tetapi banyak sekali orang Indonesia yang tidak pernah tahu apa isinya. Buku ini menceritakan seorang Kartini yang bermimpi setinggi langit, tetapi terkungkung adat dan tradisi. Pada masanya, sikap yang ia curahkan lewat tulisannya merupakan sebuah pemberontakan. Karena tulisannya, Kartini dikenal banyak orang, baik di bumi Hindia Belanda ataupun di Eropa. Dan lagi karena ia berasal dari keluarga bangsawan Jawa yang terkenal ketat terhadap adat istiadat, maka ‘pemberontakan’nya menjadi sesuatu yang istimewa. Mungkin karena itulah Kartini menjadi pelopor gerakan perjuangan kaum perempuan.

Dari tulisan Kartini, akhirnya perempuan Indonesia dapat memiliki kebebasan seperti yang kita rasakan saat ini. Dari tulisan Kartini, perempuan disamakan derajatnya dengan laki-laki sebagaimana mestinya. Dari tulisan Kartini, ada pelita dan harapan yang membuka kesadaran kaum perempuan akan nasibnya. Tulisan Kartini membuat wanita berani berbicara, berani bermimpi. “Bermimpilah, karena tanpa itu, manusia akan mati.”

Modernisasi: Terima Kasih, RA Kartini!

Berkat Kartini, mimpi-mimpi perempuan Indonesia dapat terwujud. “Yah, saya sungguh sangat menghargai usaha Kartini untuk menyetarakan kodrat perempuan dan laki-laki, karenanya sekarang saya bisa menjadi guru,” tutur Nur, salah seorang guru di SD Negeri Jakarta. “Saya juga gak menyangka kalau pekerjaan sopir bisa dilakukan oleh seorang perempuan seperti saya,” jawab Firda, sopir perempuan bus Trans Jakarta. Banyak sekali realita lainnya yang menggambarkan bahwa perempuan juga bisa melakukan pekerjaan yang sama seperti laki-laki. Perempuan bukan makhluk lemah. Perempuan juga bisa diandalkan. Perempuan tidak layak untuk direndahkan. Dan semua perjuangan itu akan terus dikenang, bersama dengan putri sejati, RA Kartini, yang akan selalu harum namanya. Terima kasih, RA Kartini!

“Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata “aku tiada dapat!” melenyapkan rasa berani. Kalimat “aku mau!” membuat kita mudah mendaki puncak gunung.” – RA Kartini.

Feature Human Interest Pilkada

TUGAS 2: Feature Human Interest tentang Pilkada DKI Jakarta

 

Menghapus ‘Kotak-kotak’ Jakarta

 

                ‘Kotak-kotak’ mungkin sudah menjadi jargon bagi warga Jakarta. Tokoh utama dari ‘kotak-kotak’ ini tentu sudah tidak asing lagi bagi warga Jakarta, bahkan masyarakat Indonesia. Ya, Joko Widodo atau biasa disapa dengan Jokowi. Beliau adalah calon gubernur DKI Jakarta. Bersama Basuki Tjahaja Purnama sebagai calon wakil gubernur, Jokowi sempat menjadi pemenang dalam pilkada gubernur DKI Jakarta putaran pertama. Hal ini tentu mengagetkan siapa saja yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat atau sekadar mengamati proses pemilihan tersebut. Fakta yang lebih mengejutkan adalah selisih suara yang sangat besar dengan saingan utamanya yaitu gubernur ibukota Republik Indonesia saat ini, Fauzi Bowo.

Langkah fenomenal Jokowi untuk menjadi gubernur DKI memang penuh keberanian dan semangat. Keberhasilan Jokowi sebagai walikota Solo untuk dua kali masa bhakti 2005-2015 bisa menjadi gambaran betapa rindunya masyarakat Jakarta akan sosok pemimpin seperti ini. Jokowi juga merupakan walikota Solo yang pertama kali mendukung Kiat eSeMKa menjadi mobil dinas. Selain keberhasilan sebagai walikota Solo, trendsetter kotak-kotak ini juga  pernah terpilih sebagai 10 Tokoh Nasional 2008, serta meraih penghargaan Bung Hatta Award, atas kepemimpinan dan kinerja beliau selama memimpin kota Solo.

Orang-orang daerah yang datang ke Jakarta, bahkan sebagian warga Jakarta sendiri pasti pernah kaget melihat gaya hidup kota Metropolitan. Mendengar nama Jakarta seakan-akan dapat menciutkan nyali seketika bagi yang baru pertama kali menjejakkan kaki di tanah Jakarta. Mungkin karena canggung dan takut, lalu pendatang akan bertingkah seperti orang kebingungan dan tidak tahu arah. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Jokowi. Justru jiwa pengabdiannya tertantang untuk menghapus stigma DKI Jakarta yang menakutkan bagi orang daerah.

Jokowi bukan tipe pemimpin yang minta diistimewakan. Justru Jokowilah yang berkonsep untuk ‘melayani masyarakat’. Beruntunglah bagi masyarakat yang memiliki sosok pemimpin semacam beliau. Sosok tersebut sangat langka, terutama di era yang sudah diracuni oleh kekuasaan ini. Tantangan bagi Jokowi adalah bukan lagi membangun fasilitas kenyamanan bagi kalangan atas yang sudah melampaui batas normal, namun sebaliknya memperhatikan lingkungan kota yang lebih manusiawi bagi semua kelas sosial warga. Sehingga tak ada lagi peng’kotak-kotak’an Jakarta. Tak ada perbedaan kasta antara Saya dan Anda, Anda dan Dia, Pendatang dan Warga Asli. Yang ada hanya kita bersama. Daerah Khusus Ibukota Jakarta! Seandainya Jokowi bisa menang… Lagi…

J J J

Yang Nyaris Terlupakan

Kicau Kacau -Indra Herlambang-

Setiap orang memang punya pandangan sendiri soal yang namanya pertemanan. Dan soal urusan ini, saya memang harus mengakui, bahwa dalam dunia perkawanan, saya mungkin bukan sahabat yang terbaik. Tapi rasanya sebagai seorang teman saya cukup bisa diandalkan. Walaupun sering sekali melupakan hal penting macam tanggal ulang tahun atau detail lain yang sering dianggap sebagai resep utama dalam menjaga hubungan persahabatan, saya cukup fanatik dalam urusan kesetiakawanan.

Saya percaya bahwa dalam satu titik kita sudah membahasakan diri sebagai teman untuk seseorang, seumur hidup kita harus siap untuk bertanggung jawab atas predikat yang luhur itu. Siap untuk
membantu setiap teman dalam kesulitan. Siap datang kapanpun kehadiran kita mereka butuhkan.Namun jika melihat jumlah teman yang mengerut seiring jumlah umur yang membengkak, apakah memang
benar pendapat orang yang mengatakan bahwa dalam hal pertemanan, manusia memang harus
menyerah pada seleksi alam? Terlepas dari sifat seseorang, introver atau ekstrover, outgoing atau super pemalu, sepertinya semua manusia pasti ingin memiliki banyak teman. Biasanya dua orang bisa menjadi kawan saat disatukan oleh:banyak persamaan. Di awal sekolah dulu, teman adalah mereka yang ada di satu kelas, satu sekolah di:lingkungan rumah, atau dalam lingkup keluarga besar. Selalu ada kesamaan tempat atau kegiatan yang menjadi faktor pemicu persahabatan. Setelah beranjak dewasa dan semua memilih jalan hidup yang berbeda, kita akan menemukan kalau secara perlahan
teman yang kita punya seolah hilang dari keseharian. Satu demi satu. Mungkin karena pertemanan perlu dipupuk dengan intensitas perjumpaan dan waktu. Jarak dan aktifitas yang berbeda mau tidak mau akan ikut membantu renggangnya hubungan yang kita
punya dulu. Apakah karena itu juga maka sekarang ada diantara kita yang sepertinya tidak terlalu banyak punya teman dekat? Konsep pertemanan seperti ini sebenarnya agak menakutkan. Karena kita seolah dibenarkan untuk menyerah dan tidak lagi berjuang untuk sebuah
hubungan persahabatan ketika semesta memilihkan jalan yang berbeda untuk langkah hidup kita.Tapi bagaimana lagi? Berapa sering kita bertemu dengan sahabat lama yang dulu sempat terasa begitu dekat namun kini tampak seperti orang asing karena sudah tidak nyambung? Pasti harus diakui bahwa terkadang dibutuhkan banyak kesamaan untuk membuat dua orang bertahan dalam satu hubungan persahabatan.

Alam seperti menyeleksi teman yang kita punya. Tempat dan kegiatan serta ruang lingkup kehidupan menjadi kunci penentu yang akhirnya memutuskan mana teman yang tetap tinggal, mana teman yang akan menghilang. Ini mungkin hanya pikiran pesimis saya saja. Bukankah sebenarnya teman akan selalu ada? Mungkin dalam bentuk orang yang berbeda, tapi esensinya sama. Hidup akan selalu mempertemukan kita dengan teman yang baru. Dan teknologi internet dan jejaring sosial yang begitu canggih saat ini bisa membantu kita untuk kembali menemukan para sahabat yang dulu pernah dekat. Namun tetap saja, saya tidak bisa berhenti berpikir bahwa sebenarnya pada akhirnya kita sendiri yang punya kekuatan untuk mempertahankan mereka yang harus tetap ada dalam hidup kita.

Sekarang pertanyaannya seberapa keras kita melakukan usaha itu? Tiga puluh tahun lagi akankah anak saya bisa menemukan saya berbincang gembira dengan seorang sahabat lama? Saya tahu sekali apa yang seharusnya saya lakukan sekarang. Mengambil telefon dan mencoba untuk kembali berbincang dengan mereka yang nyaris terlupakan.