Super Hero – Lunafly

I know I always had a heavy heart
I will always put on my guard
And I never thought of you
Should I’ve stuck to you like glue

(You always went trough that pain)?
I left you going all insane
Girl I should have thought of you
I should have seen your point of view

Oh I could try to explain
I could take all the blame

And it’s better late than never baby
You know I’ve been next to you lately
Now I want it how it was before

I know it may be late now
And I know that I’m taking over
But I’m here and I’m a super hero
And I can save you

Baby I know you can forget the things I’ve done
I know I’ve been away
But I can save you now
Oh but I can save you now
Oh

I was really done (?)
When did I have a plan on the show
I should have been around for you
Instead I got you feeling blue

Oh I could try to explain
I could take all the blame

And it’s better late than never baby
You know I’ve been next to you lately
Now I want it how it was before

I know it may be late now
And I know that I’m taking over
But I’m here and I’m a super hero
And I can save you

Baby I know you can forget the things I’ve done
I know I’ve been away
But I can save you now

Wanna talk to you
Can you hear the sound
Tell me what to do
This time I’m all yours

You know I didn’t meant it
And I never thought to hurt you girl
Why I can’t feel this right
I’ll be yours now

I know it may be late now
And I know that I’m taking over
But I’m here and I’m a super hero
And I can save you

Baby I know you can forget the things I’ve done
I know I’ve been away
But I can save you now
Oh but I can save you now

LUNAFLY – SUPER HERO 

Thank you for being my superhero, YOON!

Someday

When we were young we did not realise our youth…
When we loved we did not realise our love for each other…

But now returning to the past…
Back then we were that young, and loved that way…
Most of the memories have gone with the tear-filled river of time…
Slowly flowing away…

But now returning to the past…
The youth and love of the past was so precious…
Someday, we will meet again…
Even though we don’t know where we will go…

Someday, we will meet again…
With already separated identities…

When we were young we forgot our youth…
When we loved we saw it as too boring…
But now thinking back…
Back then we were that young, and loved that way…

Someday, we will meet again…
Even though we don’t know where we will go…

Someday, we will meet again…
With already separated identities…

Someday, we will meet again…
Someday, we will meet again…
Just like this, just like this…

Someday, we will meet again…
Even though we don’t know where we will go…

Someday, we will meet again…
With already separated identities…

Lucifer

Even if I try to avoid you, I can’t find a place to hide…
I’m trapped by you, who I can’t even deny…
If it was love, if you really loved me, don’t do this to me…
Her whisper is the Lucifer…

If you tie me down and trap me…
Then the love is also tied down…
The future is also tied down…
It can’t grow anymore…
Freely empty yourself and look at me…
I’ll fill you only, I’ll completely fill you only…

Your undeniable spell is the Lucifer…
Your undeniable magic is the Lucifer…
When I approach you with your angelic face…
Say the reason you live is for me…
Say it…

When I first saw you, I stopped for a short time…
As if someone was tightly seizing my heart, not letting it go (Still)…
You took all, all, all, all, all, all of my heart just like that…
You make my heart burn out when you’re not here…

If you tie me down and trap me…
Then the love is also tied down…
The future is also tied down…
It can’t grow anymore…
Freely empty yourself and look at me…
I’ll fill you only, I’ll completely fill you only…
Loverholic, robotronic, loverholic, robotronic…

The love stories I shared with you…
You look towards the same places I do…
When we feel that we can’t get any more perfect…
Only stare at me, you want me more, more, more, more, more, more…
Only look at me, you’re the center of everything, thing, thing, thing, thing, thing…
Since before, something has been wrong, you’ve been weird…
The love I knew left my side, one by one…
All I have is you…

If you tie me down and trap me…
Then the love is also tied down…
The future is also tied down…
It can’t grow anymore…
Freely empty yourself and look at me…
I’ll fill you only, I’ll completely fill you only…
I feel like I’ve become a clown trapped in a glass castle…
I dance for you, who will never be satisfied…
You look into me openly, touching my brain…
I think I’ve become a fool…
I think I’m only getting more and more attracted to you…
Loverholic, robotronic, loverholic, robotronic…

It’s not that I hate you or that I dislike you…
It’s just that kind of stare is a burden is all…
I’m not going anywhere…
I’ve waited like this by only looking at you…

Your stare captures me…
As the days went by, it became sharper…
I’m tired of your obsession…
I’ve been cut a lot, my heart is bleeding…
When it’s about time for me to pass out…
She comes to me like an angel, saying “I love you”…
Even though I knew it was really you…
You really confused me…

If you tie me down and trap me…
Then the love is also tied down…
The future is also tied down…
It can’t grow anymore…
Freely empty yourself and look at me…
I’ll fill you only, I’ll completely fill you only…
I feel like I’ve become a clown trapped in a glass castle…
Leave me alone, when I’m free, I’ll be able to truly love you…
Leave me alone, don’t make me sick of you…
So I can truly look at you…

If you tie me down and trap me…
Then love is also tied down…
The future is also tied down…
It can’t grow anymore…
Loverholic, robotronic, loverholic, robotronic…

Your undeniable spell is the Lucifer!

Managing an Issue of Exxon Valdez

Manajemen Isu Krisis dan Konflik

 

 

Sejarah Singkat Exxon Valdez

 

Dong Fang Ocean, sebelumnya bernama Exxon Valdez, Exxon Mediterranean, SeaRiver Mediterranean, S/R Mediterranean, Mediterranean adalah sebuah kapal tanker milik ExxonMobil yang terkenal setelah kandas dan menumpahkan minyak mentah sebesar 40.900 – 120,000 m3 (10.800.000 – 32,000,000 US gallon), atau 257.000 – 750.000 barrel [1][2] di daerah perairan Prince William, Bligh Reef, Alaska pada 24 Maret 1989, saat itu kapal ini dikemudikan oleh Kapten Joseph Hazelwood menuju Long Beach, California . Peristiwa ini merupakan tragedi buruk pencemaran laut oleh minyak kedua dalam sejarah Amerika Serikat [3] dan peringkat ke 54 di dunia.

 

Tragedi Exxon Valdez: Ganti Rugi Kerusakan Lingkungan Dalam Kasus Exxon-Valdez Dibatasi

 

Kasus tumpahnya minyak dari Supertanker milik Exxon di lepas pantai Alaska pada 23 Maret 1989 telah menjadi perhatian pemerhati lingkungan. Sampai saat ini, tumpahnya minyak ke laut yang dilakukan oleh Kapal Exxon itu adalah yang terbesar: lebih dari 12 juta gallon minyak mentah. Berbagai tuntutan telah dialamatkan ke Exxon, terutama oleh para pihak yang menggantungkan hidupnya dari laut Prince William Sound, Alaska.

Exxon sendiri telah menghabiskan dana lebih dari $ 2,1 miliar untuk membersihkan lingkungan laut dari tumpahan minyak. Ia juga harus berhadapan dengan pemerintah Amerika dan Alaska yang mengejar Exxon terlibat dalam perbuatan pidana yang bertentangan dengan Clean Water Act, the Refuse Act, dan Migratory Bird Treaty Act.

Exxon mengaku bersalah dan membayar denda $ 150juta (kemudian direvisi menjadi $ 25juta dan restitusi $100juta). Tak berhenti di sana, Pemerintah Amerika dan Alaska kemudian mengajukan tuntutan perdata atas dasar terjadinya kerusakan lingkungan, yang hasilnya membuat Exxon harus merogoh kocek sebesar $ 900juta sebagai biaya perbaikan lingkungan. Selain itu, ia juga harus membayar restitusi kepada nelayan dan pihak lainnya sebesar $ 303juta.

Satu kasus lain dikonsolidasikan (yang kebanyakan penuntutnya adalah para pihak yang dirugikan secara langsung oleh tumpahan minyak itu: nelayan, penduduk asli Alaska dan pemilik lahan; yang jumlahnya mencapai 32ribu orang) dan diajukan untuk meminta kompensasi kepada Exxon.

Di pengadilan pertama di Alaska, Exxon terbukti bersalah melakukan kelalaian yang menyebabkan terjadinya kerugian di pihak lain. Kelalaian ini sebenarnya dilakukan oleh Kapten Kapal Supertanker itu, Joseph Hazelwood, yang pada saat kapal melakukan manuver malah meninggalkan kabin dan terbukti sedang mabuk. Namun, karena Joseph Hazelwood sedang bekerja berdasarkan kontrak yang disetujui dengan Exxon, maka Exxon juga kena getahnya sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan.

Exxon karenanya diharuskan membayar lebih dari $287juta sebagai kompensasi (ganti rugi) bagi para nelayan, $20juta bagi penduduk Alaska dan lebih dari $200juta bagi pemilik lahan; atau keseluruhannya mencapai $507.2juta. Selain itu, karena terbukti lalai, Exxon juga terkena hukuman bayar ganti rugi kerusakan (punitive damage) sebesar $ 5 miliar sedangkan Joseph Hazelwood dikenakan $ 5000.

Keputusan bahwa Exxon terbukti melakukan kelalaian diperkuat oleh Pengadilan Banding, namun besarnya ganti rugi kerusakan itu diturunkan menjadi setengahnya ($ 2,5 miliar). Exxon kemudian mengambil langkah “kasasi” ke MA-USA untuk mempertanyakan apakah ganti rugi itu melewati batas yang seharusnya diberikan dalam hukum kelautan, apakah biaya ganti rugi dibatasi oleh hukum federal (Clean Water Act) dan apakah pemilik kapal bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi di luar persetujuannya (yang dilakukan oleh bawahannya).

Dalam hal besarnya ganti rugi itu, Exxon merasa bahwa besarnya ganti rugi yang harus dibayarkannya telah melewati tujuan yang diinginkan dengan adanya ganti rugi kerusakan itu, yakni menghalangi terjadinya perbuatan tidak baik atau akibat meningkatnya ancaman kerusakan.

Keputusan para hakim MA pada 25 Juni 2008 tentang apakah pemilik kapal bertanggung jawab atas perbuatan bawahannya ternyata sama kuat sehingga MA-USA tidak mengambil keputusan dalam masalah ini, sehingga keputusan di pengadilan di bawahnya tetap sebagaimana adanya. Dalam keputusan lain, MA -USA menegaskan tidak adanya pembatasan berapa ganti rugi kerusakan yang harus dibayarkan. Namun, dalam kasus ini, yang berhubungan dengan hukum kelautan, MA-USA menyatakan bahwa pembatasan harus dilakukan dengan perbandingan 1:1, dimana biaya ganti rugi harus seimbang dengan biaya kompensasi yang telah dibayarkan. Dengan kata lain, Exxon hanya wajib membayar ganti rugi kerugian sebesar $507.2juta; yang kemudian ditetapkan sebagai putusan hakim pengadilan banding pada 15 Juni 2009. Pada putusan banding itu pula ditetapkan bahwa bunga atas punitive damage itu ditetapkan sejak tahun 1996.

Setelah perdebatan tentang apakah biaya punitive damage yang diberikan kepada Exxon terlalu besar dilihat dari usaha yang sudah dilakukan oleh Exxon untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan serta biaya2 lainnya, putusan MA-AS itu juga menimbulkan polemik. Walaupun ada pihak yang berpendapat keputusan itu hanya berlaku bagi hukum kelautan saja , tetapi tetap saja keputusan itu (di negara yang menganut judge-made law) dapat memberikan arahan pada hakim ketika menghadapi kasus serupa, berurusan dengan tuntutan punitive damage yang sangat besar. Ketika pemberian kompensasi sudah bisa menafsirkan adanya “ganti rugi” dari penuntut, maka punitive damage, yang berfungsi untuk mencegah kejadian serupa terjadi kembali, memang tidak seharusnya melewati biaya kompensasi itu.

Tapi, apakah harga-harga itu memang dapat merefleksikan hancurnya ekosistem Prince William Sound? Tepatnya, apakah biaya yang dikeluarkan oleh Exxon layak untuk menggantikan kerusakan lingkungan di wilayah perairan tersebut yang kemudian menghancurkan pula keadaan social masyarakat sekitarnya, yang kesemuanya itu celakanya diawali oleh kecerobohan Exxon sendiri? Apakah $507.2juta sebagai punitive damage pada Exxon benar-benar akan mencegah Exxon untuk tidak mengulang kejadian serupa di masa depan?

Kapal Valdez itu sendiri tidak mengalami kerusakan berarti, ia bisa diperbaiki dan diberi nama berkali-kali untuk akhirnya berhenti di nama “SeaRiver Mediteranian”. Kemudian selama kurang lebih 12 tahun, ia bekerja mengantar minyak Exxon untuk rute Teluk Persia – Jepang, Singapura, Australia. Pada tahun 2002, Exxon memesiunkannya, namun banyak pihak yang percaya bahwa kapal Valdez itu tetap beroperasi dengan bendera negara asing.

 

Arogansi Exxon yang Menghancurkan Dirinya

Seiring dengan perjalanan waktu banyak pengalaman dan cerita yang kita temui. Pengalaman yang baik akan menjadi sumber motivasi sebagai pendorong menjadi lebih baik. Pengalaman yang buruk menjadi sumber pembelajaran dan perbaikan dari situasi saat ini.

Banyak perusahaan dan organisasi pernah mengalami masa krisis selama perjalanannya. Namun hanya sedikit sekali perusahaan yang tidak memiliki kompetensi dan tidak bertanggung jawab dapat melalui kejadian kritis dengan baik, salah satunya adalah Exxon. Pada tahun 1989, Exxon Valdez tanker minyak karam dan mulai menyebarkan minyaknya pada pantai di Alaska. Dalam waktu singkat, sebanyak 1.260.000 barel minyak membanjiri lautan dan menjadi peristiwa kebocoran minyak mentah terbesar di sepanjang sejarah Amerika.

Setelah ditelusuri, ternyata kapten dan wakil kapten kapal tidak dalam kondisi yang layak untuk menahkodai kapan tanker. Pertama, wakil kapten tidak memiliki kualifikasi yang layak untuk menahkodai. Kedua, beberapa awak kapaltermasuk kapten sedang dalam keadaan mabuk saat mengarahkan kapal.

Namun saat itu, Exxon tidak mengambil tindakan cepat untuk menanggulangi bencana ini. Sampai dengan lebih dari 24 jam pasca kejadian, Exxon tidak mengambil tindakan nyata untuk mencegah agar kontaminasi tidak menyebar ke wilayah lainnya. Dari segi publikasi, perusahaan juga tidak bersikap terbuka pada kalangan media. Saat beberapa media berusaha meminta keterangan dari perusahaan, Exxon selalu menghindar sementara itu minyak semakin menyebar tidak terkendali. Hal ini diperparah dengan buruknya cuaca saat itu ketika terjadi hujan yang besardisertai dengan yang kencang.

Seminggu setelah berlalu, bencana ini menarik Presiden Amerika saat itu. Presiden menyatakan bahwa bencana ini tergolong bencana nasional. Namun perusahaan tetap tidak melakukan usaha yang mencukupi dalam penanganan bencana.

Jumpa pers yang dilakukan Exxon pun justru malah memperburuk image perusahaan di mata public karena dalam siaran pers pihak perusahaan diserang habis oleh kalangan media, komunitas, dan penduduk lokal.

Komunitas lokal mengaku bahwa perusahaan telah memberikan janji akan membersihkan limbah yang mereka bocorkan dan menjaga kualitas hidup masyarakat sekitar. Akhirnya mereka kecewa dan memiliki persepsi buruk pada perusahaan. Usaha media untuk menggali informasi terus berlanjut. Pimpinan Exxon diundang pada satu acara bincang- bincang di televisi. Pada saat acara pimpinan tersebut terlihat gugup dan menolak untuk menjelaskan laporan yang diterimanya mengenai isu kebocoran minyak. Sebaliknya ia malah menyalahkan kalangan media yang terlalu melakukan pemberitaan berlebihan pada kejadian ini.

Kesalahan penanganan pada kejadian ini menyebabkan perusahan menderita kerugian dari dua sisi. Pertama adalah biaya yang besar (sebesar 7 miliar dolar) termasuk biaya pembersihan dan juga hancurnya reputasi perusahaan karena kesalahan dalam penanganan bencana. Akibat kejadian ini, Exxon jatuh dari urutan pertama menjadi urutan ketiga pada perusahaan yang beroperasi di industri minyak.

Kejadian ini menjadi simbol arogansi perusahaan dan cerita ini terus diperbincangkan selama setahun penuh. Menurut survey yang dilakukan pada tahun 1990-an, 65 persen responden menyatakan bahwa kebocoran minyak ini adalah elemen penting dalam menaikan kesadaran publik mengenai isu lingkungan.

 

 

Apa yang harus Dilakukan oleh Exxon?

Sebagaimana yang saya pelajari dari pak Donny de Keizer di mata kuliah Manajemen Isu Krisis dan Konflik, seharusnya apabila sebuah perusahaan melakukan kesalahan fatal yang berambas pada isu, krisis, dan bahkan konflik, maka perusahaan Exxon harus melakukan hal berikut:

1. Menganalisa tragedi yang terjadi

Mungkin hal pertama ini telah dilakukan oleh Exxon, mengingat ini bukanlah masalah kecil tetapi merupakan masalah dunia. Menganalisa 5W+1H menjadi sangat penting agar langkah berikut dalam mengatasi isu menjadi lebih terarah.

2.Mengisolasi krisis atau konflik

Exxon bisa saja mengisolasi krisis dengan melakukan perbaikan pada daerah yang tercemar secepatnya. Bukan seperti faktanya, mereka tidak mengambil tindakan cepat untuk menanggulangi bencana tersebut. Karena menjadi sangat penting melakukan hal ini, agar setidaknya kita masih dicap sebagai perusahaan yang bertanggung jawab dan agar isu bencana tersebut tidak terlalu memperberat atau menjatuhkan Exxon.

3. Mengukur tingkat kegawatan krisis

Karena bencana Exxon = bencana dunia = bencana lingkungan, tentu saja tingkat kegawatan krisisnya berapa pada level yang sangat amat tinggi.

4. Membuat Crisis Centre

Hal ini juga penting agar nama baik Exxon walaupun sudah tercemar jangan sampai tercemar lebih jauh. Yang bisa dilakukan Exxon adalah dengan memperbaiki citranya, buatlah outline atau website untuk memperoleh masukan masyarakat mengenai bencana tersebut.

5. Penilaian Strategi Penanganan Krisis

Exxon Valdez dapat melakukan strategi ini dengan membuat video klarifikasi permintaan maaf atas kelalaian nahkoda. Atau yang paling penting adalah, melakukan konferensi pers dan menyambut jurnalis dengan sangat hangat dan bersahabat, mengingat pers adalah elemen penting untuk memperbaiki citra Exxon. Tidak seperti yang dilakukan oleh Exxon pada faktanya yang malah menyalahkan pers.

6. Program Pengendalian Krisis

Program yang sangat pasti, harus, wajib dilakukan oleh Exxon selain memperbaiki citra tersebut. Exxon HARUS memperbaiki dan mengembalikan daerah yang ketumpahan minyak tersebut. Apabila Exxon mampu melakukannya dengan baik, niscaya citra Exxon pasti akan dikenal sebagai perusahaan yang dapat bertanggung jawab, dan bisa dipercaya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama kedua kalinya.

 

Dalam kasus ini setidaknya terdapat dua isu penting yang dapat kita pelajari. Pertama sangat penting bagi perusahaan untuk memenuhi janji yang telah disampaikan. Hal ini sangat penting untuk menjaga hubungan dengan para stakeholder terutama dalam memupuk rasa kepercayaan.

Kedua, bertindak sebagaimana perusahaan yang baik dan berkontribusi pada lingkungannya.

 

Thank you and leave a comment please 🙂

Contoh Feature Profil

 

NI WAYAN MERTAYANI: GADIS PEMULUNG DARI BALI, MENANG LOMBA FOTO INTERNASIONAL MUSEUM ANNE FRANK

Alur hidup Mertayani bisa dikatakan hampir mirip Anne Frank. Sama-sama hidup dalam tekanan, tapi penuh harapan dan cita-cita. Dan, ternyata Mertayani pun mengagumi Anne Frank setelah membaca bukunya yang sesungguhnya sebuah diary.

Ada kemiripan hidup antara Mertayani dan Anne Frank. Sama-sama ditekan dalam sebuah kondisi yang begitu menyulitkan. Bedanya, Anne yang keturunan Yahudi besar di bawah tekanan tentara Nazi pada masa itu, sementara Mertayani besar di bawah tekanan ekonomi.

Kondisi ekonomi yang sangat sulit memaksa Mertayani harus dewasa di usianya yang masih 14 tahun. Sehari-harinya, Mertayani membantu ibunya berjualan asongan di pinggir pantai selain menjalani tugas belajar sebagai siswi di SMPN 2 Abang. Kadangkala, dia ikut mencari barang rongsokan di tepi pantai.

Mertayani merupakan putri sulung almarhum I Nengah Sangkrib dan Ni Nengah Sirem. Sejak ayahnya meninggal, Mertayani tinggal bersama ibunya Ni Nengah Sirem dan adiknya Ni Made Jati. Sejak itu pula, tiga wanita ini berjuang untuk melanjutkan hidupnya dari hari ke hari dengan berjualan atau mencari barang rongsokan.

Aktivitas ini sama sekali tak pernah terbersit dalam benak Mertayani untuk dilakoni. Namun ketabahan ibunya dalam menjalani itu semua membuat Mertayani cuek terhadap cibiran di sekelilingnya. Dan, siapa menyangka, dari aktivitas mengasong dan mencari barang rongsokan, Mertayani justru kenal dengan para wisatawan. Termasuk Mrs Dolly Amarhoseija yang meminjamkan kamera digital serta mengajarkan Mertayani cara membidikannya.

Mertayani sendiri mengaku kagum dengan sosok Anne Frank. Sosok belia ini penuh dengan harapan dan cita-cita meski kenyataannya hidup dibawah tekanan. “Saya mulai mengaguminya (Anne Frank,Red) sejak membaca buku-bukunya,” kata Mertayani.

Dari bacaan itu juga, Mertayani seperti mendapat sokongan semangat bahwa hidup itu memang harus dijalani. Suka duka harus diarungi tanpa harus menanggalkan cita-cita atau harapan. Soal cita-cita, Mertayani sendiri mengaku hendak menjadi wartawan.

Apa yang dialami Mertayani itu ternyata tak berlebihan. Ibunya, Ni Nengah Sirem menuturkan bagaimana pedihnya membesarkan Mertayani dan adiknya, Ni Made Jati. Saat menerima kenyataan bahwa harus ditinggalkan suaminya, Ni Nengah Sirem harus berjuang seorang diri membesar dua putrinya.

Pernah sekali waktu, saat dirinya mencari rongsokan, Sirem dikerjai. Ceritanya, saat itu dirinya sedang sibuk mencari barang rongsokan di tepi pantai. Kemudian, ada seseorang mengatakan bahwa ada tempat yang banyak terdapat barang rongsokannya. Mendengar itu, Sirem langsung bergegas ke tempat tersebut. Tak dinyana, sesampainya di sana bukannya barang rongsokan yang ditemuinya, melainkan bangkai anjing. “Saya cuma bisa bersabar saja,” kata Sirem saat mendampingi Mertayani.

Meski hidup serbakekurangan, ada satu hal yang selalu diajarkan Sirem kepada dua orang puterinya yakni keikhlasan. Karena itulah rumah Mertayani kerap didatangi para wisatawan. Bahkan, sampai ada yang menginap dan Sirem harus menyediakan makanan dengan memotong beberapa ekor ayam peliharaannya.

”Tempo hari ada tamu cewek-cewek dari Italia. Mereka menginap di sini. Mereka nggak keberatan tidur di atas bale. Karena tempat tidur yang kami punya memang hanya itu saja,” pungkas Sirem.

Dengan prestasi yang diperoleh Mertayani, Sirem kini tambah semangat. Apa yang dia yakini dan lakukan selama ini ternyata tidak sia-sia. Dia pun berharap, anaknya itu bisa mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya.

Sumber: http://www.indonesiaberprestasi.web.id/?p=5411

*****************

 

Nl WAYAN MERTAYANI, AYAM, DAN MIMPI JADI WARTAWATI

 

Dengan langkah malu-malu, Ni Wayan Merta-yani, 14 tahun, menemui sejumlah wartawan di Radio Netherlands Training Centre di Hilversum, Belanda, Kamis pekan lalu. Dia hanya mengenakan jumper- jaket tipis bertutup kepala-berwarna abu-abu, kaus oblong, dan sepatu kets. Matanya langsung berbinar melihat para kuli tinta menyingkirkan udara dan angin dingin yang berembus kencang menggigit kulit. Maklum, Wayan amat terobsesi menjadi wartawati.

Buku The Diary of Anne Frank, tentang Annelies Marie FVank alias Anne Frank, menginspirasinya untuk rae-matri cita-cita terse-but Dolly Amarhosoija, tuns asal Belanda. adalah orang yang memperkenalkan gadis asal Ban-iar Biasiantang, Desa Purwakerti. Kecamatan Abang. Karangasem, itu dengan sosok Anne yang menjadi korban Holocaust di Amsterdam, Belanda.

Tak cuma buku, Wayan juga meminjam kamera foto milik Dolly. Dia membuat 15 foto dengan kamera itu. Jepretan terakhirnya adalah sebuah potret pohon ubi karet denganda -han tanpa daun yang tumbuh di depan rumahnya. Seekor ayam bertengger di salah satu dahan, serta handuk berwarna merah jambu dan baju keseharian yang dijemur di bawahnya.

Tak dinyana, foto sederhana itu memikat 12 fotografer kelas dunia dari World Press Photo yang menjadi juri lomba foto internasional 2009, yang digelar Yayasan Anne Frank di Belanda. Tema lomba yang yang diikuti 200 peserta itu adalah “Apa Harapan Ter-besarmu?” Wayan menjelaskan, ayam itu simbolisasi diri dan kehidupannya. “Ayam itu kalau panas kepanasan, hujan kehu-janan. Sama seperti saya,” ujarnya.

Sulung dari dua bersaudara ini memang berasal dari keluarga miskin. Ibunya, I Nengah Kirem, 52 tahun, sudah bertahun menderita ginjal dan ha-rus bekerja serabutan. Ayah Wayan telah meninggal. Mereka tinggal di gubuk berdinding bilik bambu dengan satu kamar tidur.

Untuk menopang kehidupan, tiap sore hingga gelap menyergap, pelajar kelas HI SMP Negeri 2 Abang, Karangasem, itu berjualan kue jajanan di Pantai Kadang. Jika dagangannya laku, dia bisa memperoleh pendapatan hingga Rp 50 ribu. Tapi lebih sering dia rugi karena banyak yang tidak bayar. “Atau kalau tak habis saya makan sendiri, jadi ya rugi,” ujar Wayan tersipu.

Dia mengaku punya puluhan ayam dan bebek serta beberapa ekor kambing. Ayam-ayamnya pun dibiarkan berkeliaran tak dikandangkan. Terkadang Wayan harus menyabit rumput untuk memben makan kambingnya sebelum berjualan. Namun, di sela kehidupan keras yang dilaluinya, Wayan biasa meluangkan waktu dengan membaca di perpustakaan milik Marie Johana Fardan, tetangganya yang warga Belanda pemilik vila Sinar Cinta di Pantai Amed.

“Sudah dua tahun dia menjadi langganan tetap perpustakaan. Dia menyukai buku Anne Frank itu,” ujar Marie, yang mengantar Wayan dan adiknya, Ni Nengah Jati, terbang ke Belanda.

Negeri Kincir Angin menjadi tempat pertama Wayan mengenal dunia di luar Bah. Wayan mengaku .senang bisa menjejakkan kaki di Belanda, yang menurut dia bersih, ramai, meski cuacanya kurang bersahabat. “Senang tapi makanannya tidak enak, mentah-mentah. Lebih enak jajanan saya,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Dari Yayasan Anne Frank, Wayan menerima hadiah berupa kamera saku dan sebuah komputer jinjing dari Radio Netherlands Wereldomroep. Rencananya, jika Yayasan Anne Frank mengadakan acara di Bali, dia akan diundang untuk memamerkan foto-fotonya. Radio Netherlands juga menawarkan tempat untuk Wayan mengirim cerita pendek atau tulisan-tulisannya untuk disiarkan.

Wayan berharap bisa menyelesaikan sekolah dan mewujudkan cita-citanya menjadi jumalis. Sepulangnya dari Belanda, ia mendapat kabar gembira berupa kelulusannya dari ujian nasional. “Saya ingin membahagiakan ibu saya,” ujarnya sendu. Matanya bulat menerawang. Dia sangat sadar kemiskinan mengancam kelanjutan pendidikannya. “Anne Frank lebih susah hidupnya. Jika dia tak mengeluh, saya juga seharusnya tidak,” ujarnya kemudian.

Sumber: http://bataviase.co.id/node/213068

*****************

Ibukota Tak Henti Melahirkan Harapan

Feature Human Interest

Meskipun bukan merupakan kota pelajar, Jakarta masih menjadi nominasi favorit calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikannya. Bukan hanya warga Jakarta, warga daerah juga berbondong-bondong untuk menggapai cita-citanya di kota metropolitan ini. Hal ini menyebabkan Jakarta menjadi salah satu kota yang paling diminati untuk dikunjungi orang dari berbagai daerah. Satu yang kita lupakan. Bahwa Jakarta tidaklah bertambah luas dengan kehadiran ‘pendatang’ ini. Padatnya kota Jakarta saat ini masih menjadi bahan hangat untuk diperbincangkan.

“Saya memilih kuliah di Untar Jakarta karena memang di daerah saya nggak ada fakultas ilmu komunikasi yang bagus. Kalaupun ada biasanya di Universitas Negeri, kayak Universitas Sriwijaya dan itu juga jauh dari rumah saya di Lubuklinggau,” jawab Giovani Untari saat ditanya mengapa ia memilih untuk kuliah di Universitas Tarumanagara (Untar). “Jadi waktu itu saya ikut tes JPP Untar dan diterima. Daripada ribet tes-tes yang lain, jadi saya memilih Untar,” lanjut Vani. Giovani Untari (20) adalah salah satu mahasiswa dari daerah Lubuklinggau, Palembang, yang saat ini kuliah di Untar. Vani mengaku selain kurangnya fakultas ilmu komunikasi, ia juga memilih kuliah di Jakarta agar lebih memudahkan untuk memperoleh pekerjaan.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Untar dari daerah Kebumen, Intan Permatasari (20) memiliki alasan lain. Intan memilih kuliah di Jakarta, karena memang kakaknya sekarang berdomisili di Jakarta. Dari awal, Intan memang sudah sangat ingin melanjutkan studi di Jakarta. Sebelum masuk Untar, Intan sudah diterima di FISIP Universitas Indonesia (UI). “Jadi waktu itu saya nggak jadi masuk UI karena saya juga diterima di Untar. Karena lebih deket sama rumah koko dan di Untar banyak orang chinese, jadi saya disarankan untuk masuk Untar saja”, tutur Intan.

Agisti Kusuma (18), siswi yang saat ini duduk di kelas XII SMA Negeri 2 Kebumen mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan kota Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya. Hal ini dikarenakan Agisti ingin sekali masuk ke Akademi Terapi Wicara. Sedangkan, Akademi Terapi Wicara itu hanya ada di dua kota di Indonesia, yaitu Jakarta dan Solo. “Kemungkinan besar sih saya mau di Jakarta aja,” jawab Agisti saat ditanya ia akan memilih kota mana.

Sedangkan Elinda (22) warga asli Bangka Belitung, yang sudah lebih dulu menyelesaikan Strata 1 di Trisakti School of Management Jakarta mengatakan hal berbeda. “Niat saya untuk kuliah dan kerja di Jakarta memang sangat didukung oleh keluarga sampai saat ini. Tapi setelah saya masuk ke dunia kerja, saya mulai merasakan kerasnya kota Jakarta. Macet… Padahal kalo di daerah kan nggak ada macet. Nggak ada banjir. Itu aja sih yang jadi pertimbangan apabila saya disuruh untuk mengulang masa lalu,” kata Elinda yang saat ini bekerja di Wisma Mulia.

Ketika ditanya mengenai suka duka kuliah di Jakarta, semua memiliki satu duka yang sama yaitu “kangen orang tua, kangen keluarga, kangen rumah dan segala fasilitasnya” di daerah masing-masing. Dan juga satu ‘suka’ yang sama yakni pasti akan lebih mudah untuk memperoleh pekerjaan. Sementara Vani menegaskan, “saya suka tinggal di Jakarta karena memudahkan saya untuk bertemu dengan idola-idola saya. Kan kalo konser pasti di ibukota dong, gak mungkin di kampung, apalagi kampung saya. He… He… He…”

Setiap tahunnya ada ribuan orang mendatangi kota Jakarta. Sedangkan masyarakat kota Jakarta sendiri tidak pernah pindah kemanapun. Pertanyaannya, sampai kapan Jakarta kuat untuk menampung kita semua? Harus sampai kapan kita menumpang di Jakarta? Apa kabar kampung halaman kita disana? Jakarta semakin padat. Bangunan semakin rapat. Cita-cita semakin berat. Tak ada jarak untuk berharap.