Ketika Sampah Menjadi Penopang Kehidupan

Feature Human Interest

Tak pernah terlihat raut sedih pada wajahnya. Tak sekalipun juga ia menampakkan wajah murung selama proses wawancara berlangsung. Senyum ramah selalu ia perlihatkan. Juga tak pernah ia meminta belas kasihan kepada orang lain. Hari-harinya ia jalani dengan penuh semangat. Ia selalu menjalankan perkerjaan itu dengan sungguh-sungguh, meskipun banyak orang mengatakan pekerjaan itu sangat rendah. Baginya, apapun pekerjaannya, harus selalu dijalankan dengan sebaik mungkin. Apalagi ia sadar, bahwa tak banyak orang yang siap mentalnya untuk menjalani profesi seperti dirinya.

Seperti biasanya tepat pukul 04.00 pagi sebelum terbitnya matahari, ia terbangun untuk menantang dan melawan kerasnya Jakarta demi kelangsungan hidupnya. Sore hari menjelang magrib, barulah ia menyelesaikan segala pekerjaannya. Sahar, seorang suami dan ayah dari 4 orang anak ini merupakan salah satu perantau di kota Jakarta. Usianya kini sudah 43 tahun dan ia menjalani profesi sebagai tukang sampah.

Setiap pagi, selalu dengan tergesa-gesa ia mandi dan menunaikan shalat subuh sebelum ia menunaikan kewajibannya untuk melestarikan kebersihan Jakarta. Setelah ia bersiap, ia mengambil gerobak tuanya yang besar dan berat. Gerobak usang yang telah menjadi temannya selama 5 tahun terakhir. Gerobak usang yang merupakan penampung segala jenis sampah yang bisa diuangkan. Sahar menarik gerobaknya, mulai dari tempat berlindungnya bersama tukang sampah lainnya di Daan Mogot menuju RT 05 (Superindo). Tidak pernah habis sampah yang dikumpulkan setiap hari. “Yah, walaupun saya setiap hari lewat jalan yang sama tapi sampahnya selalu ada, sampah dari rumah maupun sampah yang di jalan-jalan,” tutur Sahar.

Sejak memutuskan untuk merantau ke Jakarta, kehidupan Sahar tidaklah mudah. Tujuan awal untuk memperoleh pekerjaan yang layak menjadi sirna ketika ia menyadari bahwa tak ada satu keterampilan pun yang dimilikinya. Sahar yang hanya merupakan lulusan sekolah dasar ini juga tidak memiliki modal apapun untuk membuka usaha. “Waktu itu saya ketemu tukang sampah juga, jadi saya diajak untuk kerja kayak dia.” , ucap Sahar. Karena merasa mampu melakukan pekerjaan itu, maka Sahar memutuskan untuk menjadi tukang sampah.

Berasal dari Cikande, Kulon, seorang diri Sahar bekerja di Jakarta untuk mencukupi semua kebutuhan keluarganya di kampung. Dua anak tertuanya yang sudah berkeluarga, tak berbeda jauh dengan dirinya. Mereka hidup dalam segala keterbatasan. Tak ada hura-hura apalagi pesta. Namun dua anak tertuanya berusaha membantu untuk biaya hidup istri Sahar di kampung. Dari sampah yang bisa diuangkan, seperti botol plastik, dalam seminggu Sahar hanya memperoleh uang sekitar Rp 100.000, 00. Sangatlah kurang apabila kita bandingkan dengan biaya kehidupan di kota metropolitan dengan kesan mewah. Uang yang sangat sedikit itupun dikirim ke kampung untuk biaya sekolah dua anak bungsunya. “Paling saya cuma ambil sedikit buat makan aja,” jawab Sahar ketika ditanya mengenai jumlah uang yang diterimanya tersebut.

Segala peluh yang membasahi sekujur tubuhnya tak pernah menghentikan langkah Sahar untuk terus mengais sampah dari satu tempat ke tempat lainnya. “Duka pasti banyak yah. Cuaca itu salah satunya. Entah panas atau hujan, buat bisa makan tetep harus kerja. Resikonya sama. Kalau panas basah karena keringat, kalau hujan juga basah karena air hujan,” Sahar mencoba membuat lawakan ringan di tengan perbincangan kami mengenai suka duka menjalani profesinya. Namun Sahar membantah bahwa sebagai tukang sampah tidak ada sukanya. Padahal bagi banyak orang, sangatlah mendekati nihil ada suka menjadi seorang Sahar. Sahar menjelaskan, “Sukanya bekerja sudah kayak bentuk rasa syukur. Saya juga kerjanya yang dengan senang hati, apalagi saya bisa membantu menjaga kebersihan jalan di Jakarta ini.” Sahar melanjutkan, “Jadi walaupun sedikit, saya masih berguna untuk Jakarta.”

Empat puluh tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi Sahar untuk menjalani hidupnya yang selalu kekurangan. Masa sulit yang dialami olehnya menjadi cermin, keterbatasan bukanlah penghalang untuk senantiasa bersyukur. Dan juga baginya, tidak ada artinya keringat dan malu dalam menjalankan kehidupan dan profesinya. Ia percaya bahwa roda selalu berputar, termasuk roda kehidupannya. Tidak selamanya ia berada di bawah, kelak suatu saat nanti ia pasti merasakan bahagia di masa tuanya dengan keberhasilan dua anak bungsunya. “Saya nggak mau anak saya jadi kayak saya. Nggak sekolah, nggak tahu dan nggak bisa kerja apa-apa. Jadi saya usaha biar anak saya bisa terus sekolah setinggi-tingginya selama saya masih diberi kesempatan sama Allah untuk terus usaha bekerja,” harap Sahar.

Sahar yang pada saat diwawancara mengenakan kaos berwarna merah kusam ini menutup wawancara dengan mengatakan, “Yang penting kita selalu mensyukuri apa yang sudah Allah beri pada kita dan terus usaha. Dengan bersyukur dan berusaha niscaya Allah akan membantu dalam segala keterbatasan kita.”

Advertisements

Emansipasi vs Modernisasi

Image    Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita, lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.” (Kartini – Habis Gelap Terbitlah Terang)

Raden Adjeng Kartini

Raden Adjeng Kartini atau yang biasa kita kenal dengan RA Kartini adalah tokoh pelopor kebangkitan perempuan Indonesia. Sebagai pahlawan emansipasi perempuan, tentu Kartini seringkali menjadi tokoh inspirasi bagi para perempuan pada era ini. Karena prestasi yang diciptakan oleh Kartini bukan hanya mengubah hidupnya, tetapi hidup semua perempuan setelah prestasi tersebut dilahirkan Kartini.

Jepara, 21 April 1879

21 April 1879, di Jepara lahirlah anak perempuan kelima dari sebelas bersaudara. Dinamakan Raden Adjeng Kartini, ia lebih sering dipanggil dengan Raden Ayu Kartini. Kartini adalah seorang dari kalangan kelas bangsawan Jawa, dan merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, yang adalah bupati Jepara pada masa itu. Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah.

Pada tanggal 13 September 1904, RA Kartini melahirkan bayi pertama dan terakhirnya yang diberi nama Singgih RM Soesalit. Tetapi keadaan kesehatan kartini semakin memburuk pada saat itu, hingga akhirnya Kartini menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 17 September 1904.

Emansipasi Kartini untuk Perempuan Indonesia

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Mengapa Kartini? Tahukah Anda? Sejarah kartini yang diajarkan di Sekolah Dasar hanya menggambarkan Kartini secara garis besar; tentang lahir, hidup, dan matinya saja.

Tapi tahukah Anda bahwa ada sejarah yang lebih penting daripada itu? Yah, “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang merupakan kumpulan surat-surat Kartini kepada para sahabatnya juga kerapkali disebutkan. Tetapi banyak sekali orang Indonesia yang tidak pernah tahu apa isinya. Buku ini menceritakan seorang Kartini yang bermimpi setinggi langit, tetapi terkungkung adat dan tradisi. Pada masanya, sikap yang ia curahkan lewat tulisannya merupakan sebuah pemberontakan. Karena tulisannya, Kartini dikenal banyak orang, baik di bumi Hindia Belanda ataupun di Eropa. Dan lagi karena ia berasal dari keluarga bangsawan Jawa yang terkenal ketat terhadap adat istiadat, maka ‘pemberontakan’nya menjadi sesuatu yang istimewa. Mungkin karena itulah Kartini menjadi pelopor gerakan perjuangan kaum perempuan.

Dari tulisan Kartini, akhirnya perempuan Indonesia dapat memiliki kebebasan seperti yang kita rasakan saat ini. Dari tulisan Kartini, perempuan disamakan derajatnya dengan laki-laki sebagaimana mestinya. Dari tulisan Kartini, ada pelita dan harapan yang membuka kesadaran kaum perempuan akan nasibnya. Tulisan Kartini membuat wanita berani berbicara, berani bermimpi. “Bermimpilah, karena tanpa itu, manusia akan mati.”

Modernisasi: Terima Kasih, RA Kartini!

Berkat Kartini, mimpi-mimpi perempuan Indonesia dapat terwujud. “Yah, saya sungguh sangat menghargai usaha Kartini untuk menyetarakan kodrat perempuan dan laki-laki, karenanya sekarang saya bisa menjadi guru,” tutur Nur, salah seorang guru di SD Negeri Jakarta. “Saya juga gak menyangka kalau pekerjaan sopir bisa dilakukan oleh seorang perempuan seperti saya,” jawab Firda, sopir perempuan bus Trans Jakarta. Banyak sekali realita lainnya yang menggambarkan bahwa perempuan juga bisa melakukan pekerjaan yang sama seperti laki-laki. Perempuan bukan makhluk lemah. Perempuan juga bisa diandalkan. Perempuan tidak layak untuk direndahkan. Dan semua perjuangan itu akan terus dikenang, bersama dengan putri sejati, RA Kartini, yang akan selalu harum namanya. Terima kasih, RA Kartini!

“Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata “aku tiada dapat!” melenyapkan rasa berani. Kalimat “aku mau!” membuat kita mudah mendaki puncak gunung.” – RA Kartini.

Feature Human Interest Pilkada

TUGAS 2: Feature Human Interest tentang Pilkada DKI Jakarta

 

Menghapus ‘Kotak-kotak’ Jakarta

 

                ‘Kotak-kotak’ mungkin sudah menjadi jargon bagi warga Jakarta. Tokoh utama dari ‘kotak-kotak’ ini tentu sudah tidak asing lagi bagi warga Jakarta, bahkan masyarakat Indonesia. Ya, Joko Widodo atau biasa disapa dengan Jokowi. Beliau adalah calon gubernur DKI Jakarta. Bersama Basuki Tjahaja Purnama sebagai calon wakil gubernur, Jokowi sempat menjadi pemenang dalam pilkada gubernur DKI Jakarta putaran pertama. Hal ini tentu mengagetkan siapa saja yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat atau sekadar mengamati proses pemilihan tersebut. Fakta yang lebih mengejutkan adalah selisih suara yang sangat besar dengan saingan utamanya yaitu gubernur ibukota Republik Indonesia saat ini, Fauzi Bowo.

Langkah fenomenal Jokowi untuk menjadi gubernur DKI memang penuh keberanian dan semangat. Keberhasilan Jokowi sebagai walikota Solo untuk dua kali masa bhakti 2005-2015 bisa menjadi gambaran betapa rindunya masyarakat Jakarta akan sosok pemimpin seperti ini. Jokowi juga merupakan walikota Solo yang pertama kali mendukung Kiat eSeMKa menjadi mobil dinas. Selain keberhasilan sebagai walikota Solo, trendsetter kotak-kotak ini juga  pernah terpilih sebagai 10 Tokoh Nasional 2008, serta meraih penghargaan Bung Hatta Award, atas kepemimpinan dan kinerja beliau selama memimpin kota Solo.

Orang-orang daerah yang datang ke Jakarta, bahkan sebagian warga Jakarta sendiri pasti pernah kaget melihat gaya hidup kota Metropolitan. Mendengar nama Jakarta seakan-akan dapat menciutkan nyali seketika bagi yang baru pertama kali menjejakkan kaki di tanah Jakarta. Mungkin karena canggung dan takut, lalu pendatang akan bertingkah seperti orang kebingungan dan tidak tahu arah. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Jokowi. Justru jiwa pengabdiannya tertantang untuk menghapus stigma DKI Jakarta yang menakutkan bagi orang daerah.

Jokowi bukan tipe pemimpin yang minta diistimewakan. Justru Jokowilah yang berkonsep untuk ‘melayani masyarakat’. Beruntunglah bagi masyarakat yang memiliki sosok pemimpin semacam beliau. Sosok tersebut sangat langka, terutama di era yang sudah diracuni oleh kekuasaan ini. Tantangan bagi Jokowi adalah bukan lagi membangun fasilitas kenyamanan bagi kalangan atas yang sudah melampaui batas normal, namun sebaliknya memperhatikan lingkungan kota yang lebih manusiawi bagi semua kelas sosial warga. Sehingga tak ada lagi peng’kotak-kotak’an Jakarta. Tak ada perbedaan kasta antara Saya dan Anda, Anda dan Dia, Pendatang dan Warga Asli. Yang ada hanya kita bersama. Daerah Khusus Ibukota Jakarta! Seandainya Jokowi bisa menang… Lagi…

J J J